Kolaborasi Ciamik Dokter Resto Elka dan Fatma Syaifullah Yusuf Dalam Perayaan Imlek

oleh -346 Dilihat
oleh

 

SURABAYA (pilarhukum.com) – Perayaan tahun baru Thionghoa atau biasa kita kenal Imlek 2026 dirayakan penuh suka cita di restoran Kayanna Surabaya. Acara yang dikemas dengan nuansa khas Imlek yakni nuansa merah ini turut dihadiri oleh Fatma Syaifullah Yusuf.

Perayaan Imlek tahun ini terasa berbeda. Bukan sekadar menandai pergantian tahun, tetapi menjadi ruang berbagi—tempat produk, kepedulian, dan harapan dipertemukan.

Di tengah suasana hangat itu, Ellen Sulistyo, Owner Kayana yang kerap dijuluki doktor resto karena kepiawaiannya mengembangkan bisnis kuliner, menyambut tamu satu per satu. Bagi Ellen, perayaan Imlek bukan hanya soal tradisi dan silaturahmi, melainkan tentang membuka peluang bagi mereka yang selama ini kerap kesulitan mendapat akses pasar.

Melalui kolaborasi Kayana, Bocorocco, Ellen menghadirkan bazar bertema berbagi sebagai bagian dari perayaan Imlek. Produk Bocorocco menjadi salah satu penopang utama kegiatan tersebut, dengan seluruh hasil penjualan disalurkan untuk mendukung aktivitas Yayasan 1001 Cahaya.

Yayasan 1001 Cahaya merupakan lembaga sosial yang bergerak dalam pemberdayaan penyandang disabilitas dan kelompok rentan melalui pengembangan karya kreatif. Dukungan Bocorocco dalam acara ini tidak hanya menghadirkan produk, tetapi juga membuka ruang pemasaran bagi karya-karya binaan yayasan yaitu batik dan lukisan serta makanan.

Perayaan Imlek di Kayana juga dihadiri Fatma Saifullah Yusuf, istri Menteri Sosial RI Saifullah Yusuf, yang selama ini aktif mendukung kegiatan Yayasan 1001 Cahaya. Kehadirannya menjadi simbol keterhubungan antara upaya pemerintah, komunitas sosial, dan pelaku usaha dalam membangun kemandirian masyarakat.

“Imlek identik dengan kebersamaan. Di momen ini, kami ingin berbagi sekaligus membuka ruang bagi karya-karya yang membutuhkan dukungan agar bisa terus hidup,” ujar Ellen.

 

Di salah satu sudut ruangan, sepatu dan sandal kesehatan merek Bocorocco tersusun rapi. Produk yang dikenal nyaman dan fungsional itu berdampingan dengan tas, tumbler, jaket, hingga lukisan karya anak-anak berkebutuhan khusus. Meski bermerek Italia, sejak 2018 Bocorocco telah sepenuhnya dimiliki anak bangsa, dengan proses produksi dilakukan di Tangerang dan Solo.

Namun sorotan utama hari itu bukan semata pada produk bermerek, melainkan pada cerita di baliknya. Sebagian besar produk yang dipamerkan merupakan hasil karya binaan Yayasan 1001 Cahaya—para penyandang disabilitas dan kelompok rentan yang sebelumnya telah mengikuti pelatihan, termasuk program yang difasilitasi Kementerian Sosial.

Kementerian Sosial menegaskan bahwa keberlanjutan pasca pelatihan menjadi kunci utama dalam pemberdayaan.

“Bagi kami, pelatihan hanyalah langkah awal. Yang paling penting adalah memastikan karya mereka benar-benar hidup dan punya masa depan. Apa yang dilakukan Yayasan 1001 Cahaya, bersama pelaku usaha seperti Kayana dan dukungan Bocorocco, memberi ruang nyata bagi penyandang disabilitas dan kelompok rentan untuk terus berkarya dan berdiri di atas kaki sendiri,” tutur Fatma Saifullah Yusuf

Ellen mengakui, tantangan terbesar para binaan justru muncul setelah pelatihan selesai. “Mereka bisa membuat produk yang bagus, tetapi pemasaran menjadi tembok besar. Di situlah kami mencoba menjembatani,” katanya.

Di Surabaya, Yayasan 1001 Cahaya saat ini membina sekitar 10 pembatik. Pembinaan serupa juga dilakukan di Pasuruan, Jakarta, serta sejumlah wilayah di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Polanya berkelanjutan: karya para binaan diambil, diberi dukungan permodalan, lalu dipasarkan melalui berbagai kegiatan, termasuk bazar Imlek di Kayana yang didukung Bocorocco.

Tak hanya bazar produk, perayaan Imlek ini juga diramaikan dengan sajian kuliner khas Nusantara, seperti nasi liwet, asinan, hingga aneka kue Imlek. Seluruh hasil penjualan makanan tersebut disumbangkan untuk mendukung kegiatan sosial Yayasan 1001 Cahaya.

Di tengah riuh obrolan dan kilatan kamera, perayaan Imlek di Kayana menghadirkan pesan sederhana namun kuat: bisnis dapat berjalan seiring dengan kepedulian, dan produk dapat menjadi jembatan kemandirian

Di Kayana hari itu, Imlek tak hanya dirayakan dengan warna merah dan hidangan lezat, tetapi juga dengan keyakinan bahwa setiap karya sekecil apa pun layak mendapat panggung dan cahaya. [Efa]

No More Posts Available.

No more pages to load.